Minggu, 19 Maret 2017

TUGAS TERSTRUKTUR II

ALAT PERAGA SMP UNTUK PEMBELAJARAN KIMIA

PERBEDAAN UNSUR, MOLEKUL UNSUR, DAN MOLEKUL SENYAWA




Untuk selengkapnya dapat dilihat di Https:youtu.be/kg5N5OmKrUg

Minggu, 05 Maret 2017

PERTEMUAN 6

PRESENTASI E-LEARNING KIMIA HASIL PENGEMBANGAN

E-LEARNING
Penerapan e-learning pada semua pembelajaran sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Semua guru dan dosen tidak dapat lagi menghindari hal ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua guru dan dosen harus dapat menggunakan teknologi era digital dan menguasainya. 

Berikut beberapa pengertian e-learning dari berbagai sumber :
  1. Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael, 2013:27).
  2. Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).
  3. Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).


    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.kampus-digital.com/2017/02/e-learning.html



     

Minggu, 26 Februari 2017

PERTEMUAN 5

PRESENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN HASIL PENGEMBANGAN

Multimedia adalah suatu sarana (media) yang didalamnya terdapat perpaduan (kombinasi) berbagai bentuk elemen informasi, seperti teks, graphics, animasi, video, interaktif maupun suara sebagai pendukung untuk mencapai tujuannya yaitu menyampaikan informasi atau sekedar memberikan hiburan bagi target audiens-nya.
Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan seperti game. Kata multimedia itu sendiri berasal dari kata multi (Bahasa Latin) yang berarti banyak dan katamedia (Bahasa Latin) yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu.
  
Multimedia dapat disajikan dalam beberapa metode, antara lain :
Berbasis kertas (Paper-based), contoh : buku, majalah, brosur.
Berbasis cahaya (Light-based), contoh : slideshows, transparansi.

Berbasis suara (Audi-based), contoh : CD Players, tape recorder, radio.

Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh : televisi, VCR (Video Cassete Recorder, film.
       Berbasis Digital (Digilatally-based), contoh : komputer.
 

KELOMPOK 6
JUDUL : "PENGARUH LUAS PERMUKAAN TERHADAP LAJU REAKSI"





Videonya dapat dilihat di link : https://www.youtube.com/watch?v=Gjn0gMiUn8s

Daftar Pustaka
 http://hartina129b.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-multimedia-dan-contohnya.html

Sabtu, 25 Februari 2017

PERTEMUAN 4

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


                 Perkembangan teknologi baru di bidang komunikasi dan informasi  membawa pengaruh terhadap pergeseran paradigma perpustakaan yang semula berbasis tekstual menjadi elektronik. Salah satu dampak yang paling signifikan dari perubahan paradigma tersebut adalah munculnya layanan-layanan baru yang menawarkan pencarian dan penemuan informasi secara elektronik.
Pendit berpendapat teknologi baru di bidang komputer dan informasi membawa pemikiran baru yang diberi tajuk perpustakaan digital (digital library). Konsep ini membawa pada pemikiran konsep yang tidak saja merujuk pada pergeseran teknologi melainkan pada pergeseran tata pikir, pergeseran
paradigma, perubahan tingkah laku, sampai rekonstruksi persepsi dari nilai dan sistem nilai yang ada dalam konteks lingkungan digital (Pendit, 2007:1).
                 Perpustakaan merupakan jantung dari sebuah lembaga pendidikan. Bagaimana sebuah lembaga pendidikan dapat mencerdaskan anak didiknya jika tidak memiliki fasilitas yang bisakhususnya di perguruan tinggi akan dapat dikembangkan dengan adanya perpustak menjadi referensi pembelajaran yang mumpuni bagi anak didiknya. Mutu pendidikan, aan yang memadai sesuai dengan perkembangan zaman. Disinilah eksistensi sebuah konsep digital library (perpustakaan digital) diperlukan.
                 Dalam dinamika Perguruan Tinggi di Indonesia, perpustakaan memerankan fungsi multiple role, dimana perpustakaan tak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mencari referensi namun juga memiliki fungsi tempat belajar, pelayanan akademik, dan sebagainya. Perpustakaan di Perguruan
Tinggi yang saat ini mimiliki fungsi semakin kompleks pun dituntut untuk terus berkembang dengan berbagai kemasan dan fasilitas yang ditawarkan kepada pengguna. Karena jika perpustakaan tidak berkembang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa, perpustakaan dapat ditinggalkan dengan berbagai alasan.
                 Potensi-potensi telematika untuk pendidikan saat ini sedang diarahkan ke suatu konsep yang disebut pembelajaran elektronik (e-learning) dalam sebuah lingkungan virtual (virtual learning environment). Menurut Rosenberg (dalam Pendit, 2007: 44) e-learning selalau dihubungkan dengan internet, sebagai teknologi yang memungkinkan penyampaian pengetahuan secara meluas, dan didasarkan pada tiga ciri utama teknologi ini. Pertama, e-learning memanfaatkan teknologi jaringan yang memungkinkan pemakaian informasi secara bersama dari berbagai tempat terpisah sambil sekaligus melakukan pembaruan (updating), penyimpanan, penemuan, dan penyebaran pengetahuan
secara terus menerus. Kedua, e-learning memungkinkan penggunaan berbagai aplikasi teknologi komunikasi karena saat ini internet sudah memiliki protokol dan standar yang memungkinkan penggunaan berbagai media digital secara bersama-sama. Ketiga, berkat potensi teknologi sebagaimana disebut pada butir pertama dan kedua di atas, maka e-learning dapat menjadi paradigma baru yang berdasarkan pandangan luas tentang peran pendidikan, sehingga pendidikan tidak selalu menjadi pelatihan atau pemindahan pengetahuan, tetapi pembelajaran yang holistik dan terus menerus.
Sistem Belajar Dengan E-Learning
                  Dewasa ini dunia pendidikan sangat akrab dengan istilah e-learning.E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Adapun beberapa definisi dari e-learning diantaranya:
1. Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael,2013:27).
2. Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).
3. Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).
Sehingga karakteristik E-learning (Nursalam, 2008:135) adalah:
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer anetworking)
3. Menggunkan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
                    Walaupun istilah yang digunakan disini adalah e-learnig (electronic learning), tetapi dapat diketahui bahwa e-learning yang ada sekarang tak hanya mencakup pemaknaan kata electronic. Pada awal perkembanganya dikemas e-learning melalui media elektronik seperti video dalam bentuk CD/VCD/DVD, namun kini penggunaan e-learning dalam praktiknya lebih identik dengan
komputer dan internet. Artinya secara pemaknaan e-learning merupakan digital learning. Hanya saja penggunaan istilah e-learning lebih jamak digunakan diseluruh dunia.
                 Seperti halnya dengan teknologi dan informasi yang mengutamakan kemudahan akses, penggunaan dan pelayanan, maka e-learning pun menerapkan perinsip yang sama dengan hal tersebut. Sehingga beberapa manfaat dari (Pranoto, dkk , 2009:309) adalah:
1. Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.
2. Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
3. Meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
4. Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.

Pengertian E-Learning
                Kegiatan pembelajaran secara elektronik atau singkat disebut “e-learning” telah dikenal pada tahun 1970-an, namun di Indonesia memulainya pada tahun 1995-an. Menurut Soekartawi (2007: 23) e-learning berasal dari huruf “e” baruyang berarti elektronik dan ”Learning” yang berarti pembelajaran, jadi e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika. Lebih lanjut menurut Nichols (2003) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 65) mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: “internet 17 based learning” (belajar berbasis internet), “virtual learning” (belajar melalui lingkungan maya), dan “web-based learning” (belajar berbasis web). 
                Beberapa ahli mengemukakan bahwa istilah “e-learning” mengacu pada penggunaan teknologi internet untuk menyajikan sejumlah pilihan solusi yang sangat luas yang mengarahkan pada peningkatan pengetahuan. Sehingga menurut beberapa ahli yaitu Mary Daniels Brown dan Dave Feasey (2001) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 66) mengemukakan bahwa e-learning adalah bentuk kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan, seperti: internet, Local Area Network (LAN), atau Wider Area Network (WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi, serta didukung oleh berbagai layanan belajar lainnya Menurut Soekartawi (2007: 27-28) pada dasarnya cara penyampaian dari e-learning, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah (One way communication), komunikasi dua arah (Two way communication). Komunikasi antara guru dan siswa sebaiknya dilakukan secara dua arah, karena didalam pembelajaran membutuhkan interaksi yang lebih dekat agar tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Lebih lanjut Soekartawi menjelaskan bahwa dalam e-learning sistem dua arah ini juga dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu :
(1) Dilaksanakan secara langsung (syncronous)
Artinya pada saat guru atau instruktur memberikan pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan.
(2) Dilaksanakan secara tidak langsung (a-syncronous)
Misalnya pesan dari instruktur direkam terlebih dahulu sebelum digunakan.
Fungsi Pembelajaran Elektronik (E-learning)
               Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 21-24) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction) antara lain:
(1) Suplemen (Tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila siswa mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada
kewajiban/keharusan bagi siswa untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, siswa yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
(2) Komplemen (Pelengkap)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi pengayaan atau remedial bagi siswa di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
(3) Substitusi (Pengganti)
Beberapa sekolah di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif
model kegiatan pembelajaran/pembelajaran kepada para siswanya.Tujannya agar para siswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan pembelajarannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari siswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih siswa, yaitu: sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan sepenuhnya melalui internet.
Manfaat E-Learning
              E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus
dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa. Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 24-26) manfaat e-learning dapat dilihat dari dua sudut, yaitu: 
1 Sudut Siswa
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitasbelajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
2 Sudut Guru
Beberapa manfaat yang diperoleh guru, instruktur antara lain adalah bahwa guru, instruktur dapat :
(1) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi.
(2) Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.
(3) Mengontrol kegiatan belajar siswa. Bahkan guru atau instruktur juga dapat mengetahui kapan siswanya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang.
(4) Mengecek apakah siswa telah mengerjakan soal-soal.
(5) Latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan memeriksa jawaban siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa. Seiring perkembangan teknologi internet, metode e-learning mulai dikembangkan. MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat mengubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan MOODLE, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. MOODLE itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (Prakoso, 2005: 13).


DAFTAR PUSTAKA

Chandrawati, Sri Rahayu. 2010. Pemanfaatan E-learning dalam Pembelajaran.
No 2 Vol. 8. http://jurnal.untan.ac.id/
Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Suatu Panduan Praktis.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nursalam dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Pendit, Putu Laxman, dkk. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan
Perguruan Tinggi Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Pendit, Putu Laxman. 2008. Perpustakaan Digital: Dari A samapi Z. Jakarta:
Cita Karyakarsa Mandiri.
------. 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan dan Dinamika. Jakarta:
Cita Karyakarsa Mandiri.
Siahaan, Sudirman. 2005. Seputar Pembelajaran Elektronik (e-Learning). Jurnal
Teknodik, 17(4): 63-80 di http://www.issuu.com/downloadbse/
docs/jurnal_nodik_17_full didownload pada tanggal 17 April 2010.
Soekartawi. 2007. Merancang dan Menyelenggarakan E-Learning. Yogyakarta:
Ardana Media.
Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Baru
Algesindo
Sugandi, Achmad dan Haryanto. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT
MKK UNNES.

Minggu, 12 Februari 2017

TUGAS TERSTRUKTUR 1


1. Menurut cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia. 

        JAWAB :
      
                     Menurut Meyer (2003) CTML memiliki tiga asumsi dasar. Asumsi yang pertama adalah Dual Chanel, manusia memiliki dua cara dalam memproses informasi apa saja yang mereka dapat melalui dua jalur, visual (penglihatan) dan audio (pendengaran). Contohnya yaitu komputer desain program micrososft powerpoint dan radio. Asumsi yang kedua adalah Limited Capacity, manusia memiliki daya tampung yang terbatas terhadap informasi yang masuk pada setiap jalur yang diterima pada waktu yang sama, asumsi ini diadopsi dari Cognitive Load Theory. Contohnya yaitu kemampuan mengingat atau memahami / otak serta on-screen text. Asumsi yang ketiga adalah Active Processing, manusia menggabungkan berbagai macam informasi yang mereka terima baik secara visual maupun audio yang kemudia digabungkan menjadi satu kesatuan yang koheren dan mengintregasikannya dengan pengetahuan yang lain. Contohnya yaitu suara, gambar, dan kata-kata.

   
  2. Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran  kimia
     
        JAWAB :
                     Model Dual-Coding adalah: model pembelajaran yang dikembangkanberdasarkan prinsip-prinsip  Dual-Coding Theory atau Teori Pengkodean Ganda. Teori pengkodean ganda adalah teori yang berasumsi bahwa manusia memiliki dua sistem pengolahan informasi yang berlainan: satu mewakili informasi verbal dan yang lain mewakili informasi visual Solso, 1998). Lebih lanjut, Paivio (1991, dalam Solso, 1998) menguraikan tentang separated dual-code dan integrated dual-code. Separated dual-code menunjukkan perbedaan yang jelas pada model penerimaan atau penyimpanan informasi dalam memori berdasarkan informasi yang diberikan, dalam hal ini informasi visual dan informasi verbal. Informasi yang diberikan dalam bentuk kata-kata akan diterima dalam bentuk verbal, sedangkan informasi yang diterima dalam bentuk gambar akan diterima atau disimpan dalam bentuk visual. Ada 3 proses yang berlangsung saat seseorang menerima 2 bentuk informasi (verbal dan visual), dalam waktu yang sama, yaitu: 1) membuat gambaran verbal serta kesesuaian dengan informasi verbal yang diterima; 2) membuat gambaran visual serta kesesuaian dengan informasi
visual yang diterima; dan 3) membuat kesesuaian hubungan antara gambaran visual dengan gambaran verbal yang sudah diterima.
                   
                Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen .
     
                    
      DAFTAR PUSTAKA
  
     repository.upi.edu/11784/4/T_IPS_1204758_Chapter1.pdf
    repository.uksw.edu/bitstream/123456789/6029/2/T2_942012061_BAB%20II.pdf
 https://faisalfatih.wordpress.com/2014/12/14/teori-kognitif-pembelajaran-multimedia-cognitive-theory-of-multimedia-learning/
    http://www.penerbitduta.com/read_article/2016/03/kajian-teori-dual-coding-theory#.WKA5RzGk-lo

   

Sabtu, 11 Februari 2017

PERTEMUAN 3

TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA


                  Tantangan perkembangan IPTEK perlu diikuti oleh peningkatan kualitas pendidikan. Seperti yang diungkapkan oleh W. Gulo (2004: 13) bahwa “Pendidikan berusaha untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam taraf tertentu” oleh karena itu guru mempunyai tugas yang terkait satu sama yang lain yaitu memberikan pengajaran yang mengarah pada meningkatkan kualitas pembelajaran.

                    Wilson (2011: 39) berpendapat “learning depends on teachers’ decisions when using technology tools. A type of knowledge several authors have characterized as necessary for teacher to understand how to use technology effectively to teach specific subject matter” (Pembelajaran tergantung pada keputusan guru saat menggunakan teknologi. Suatu pengetahuan penting bagi guru untuk memahami bagaimana menggunakan teknologi secara efektif untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu). Untuk menga-tasi masalah tersebut peneliti dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran harus kreatif dalam memilih model atau desain pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan pembelajaran berbantuan multimedia dengan Microsoft powerpoint. “Pembelajaran multimedia merupakan pembelajaran menggunakan berbagai jenis media yang berbeda dalam menyampaikan pesan atau materi pembelajaran agar pesan atau materi pembelajaran diterima secara optimal oleh siswa yang memiliki modalitas yang berbeda”(Musfiqon, 2012: 186).

                    Proses pembelajaran yang efektif terletak pada optimalisasi beban kognitif dalam kapasitas memori kerja siswa yang terbatas. Dalam mendesain pembelajaran perlu mempertimbangkan faktor kognitif. Teori yang membicarakan beban kognitif disebut teori beban kognitif. Sweller mengungkapkan, “Cognitive Load Theory (CLT) began as instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture” (Plass, Jan L.,Roxana Moreno, Robald Bruken, 2010: 29). Sehingga teori beban kognitif merupakan suatu teori yang diperkenalkan sebagai pengajaran yang berdasar pada pengetahuan dari arsitektur kognitif manusia yang kita miliki. Menurut Kuan (2010:6), teori beban kognitif berkaitan dengan dua bidang yaitu struktur memori manusia (arsitektur kognitif) dan bagaimana informasi diproses (beban kognitif).

                      Dalam struktur kognitif manusia terdiri dari tiga sistem memori: memori sensori, memori kerja (working memory atau biasanya dikenal memori jangka pendek/short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory). Memori kerja bertugas untuk mengorganisasikan informasi, memberikan makna, dan membentuk pengetahuan untuk disimpan di memori jangka panjang. Memori ini hanya dapat menyimpan informasi dalam jangka waktu yang pendek. Dalam proses pembelajaran, memori kerja digunakan untuk pengolahan informasi, memecahkan masalah, menganalisis kebutuhan, berfikir, operasi-operasi mental lainnya. Memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Karena itu, materi yang diberikan kepada siswa harus bertahap tidak boleh semuanya langsung diberikan agar tidak menjadi overload.

                     Prinsip utama teori beban kognnitif adalah kualitas dari pembelajaran akan meningkat jika perhatian dikonsentrasikan pada peran dan keterbatasan memori kerja. R.C. Clark et al mengungkapkan bahwa terdapat tiga beban kognitif yang mempengaruhi kerja memori tersebut yaitu 1) beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load), 2) beban kognitif germany (germany cognitive load) dan 3) beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) (Kuan, 2010: 6). Beban kognitif intrinsic bergantung pada tingkat kesulitan dari materinya seberapa banyak unsur yang ada dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Beban kognitif germany (germany cognitive load) adalah beban yang relevan atau menguntungkan yang dikenakan oleh metode pengajaran yang mengarah pada hasil belajar yang lebih baik (Kuan, 2010:7). Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) bergantung pada cara pesan-pesan ins-truksional tersebut dirancang, yakni pada materi tersebut ditata dan disajikan (Mayer, 2009:74).

                     Pembelajaran yang efektif dapat dicapai dengan mengelola beban kognitif intrsik, mengurangi beban kognitif asing, dan meningkatkan beban kognitif erat. Semakin banyak pengetahuan yang dapat digunakan secara otomatis dalam proses pembelajaran maka semakin minimum beban kognitif di memori kerja. Penyampaian materi yang sangat sulit dengan cara yang mudah dan menarik sehingga dapat diterima dan dipahami oleh siswa. Hal ini dapat membuat beban kognitif dalam suatu pembelajaran berkurang dan menurun dengan mengandalkan cara pengajaran yang kreatif dan tepat sasaran.

                    Berdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Bebantuan Multimedia Berdasarkan Teori Beban Kognitif yang dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa''

                     Untuk menghindari pemahaman yang berbeda terhadap istilah sehingga peneliti memberikan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah media yang digunakan dalam pembelajaran yaitu dengan microsoft powerpoint
2. Beban kognitif merupakan suatu beban mental (mental load) yang terkait dengan perbedaan tugas yang diminta dengan kemampuaan seseorang untuk menguasai tugas tersebut.
3. Teori beban kognitif (Cognitive load Theory) merupakan suatu teori yang menjelaskan fenomena yang dihasilkan oleh pembelajaran dengan memper-timbangkan kemampuan dan batasan rancangan kognitif manusia, teori ini menghubungkan desain karakteristik beban pembelajaran dengan prinsip pengolahan informasi.
4. Pembelajaran berbantuan multi mediaberdasarkan teori beban kognitif merupakan pembelajaran yang dapat mengelola beban kognitif intrinsic, merendahkan beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germany dengan langkah-langkah (a) menginformasikan
tujuan pembelajaran melalui powerpoint, (b) menyampaikan materi dengan powerpoint, (c) membentuk kelompok (4-5 anak), (d) memberikan tugas (KLS) yang dikerjakan secara
berkelompok, (e) memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan (f) membuat rangkuman tentang materi yang telah dipelajari.




DAFTAR PUSTAKA
 
Bell, F.H.. 1978. Teching Learning Mathematics: In Secondary Shooles. Iowa: Wn. C. Brown Company Publishers.
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Dedikbud P2LPTK.
Gulo, W. 2004. Strategi Belajar mengajar. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Grasindo.
Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Heni, 2010. Having Fun With Microsof PowerPoint. Yogyakarta: Skripta Media Creative.
Musfiqon, HM. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembe-lajaran. Cetakan Pertama. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Plass, Jan L, Roxana Moreno, Roland Brunken. 2010. Cognitive Load Theory. Cambridge:Cambridge University Press.
Kuan, Nigel Choon Hao. 2010. Integrating link maps into Multimedia: an Investigation. University Of Sydney.
Lauren B. Resnick, 1981. The Psychology of Mathematics for Instruction, Lawrence Erlbaum Associates.
Margaret Wu,2006, vol. 18, No.2, 93-113. Modelling Mathematics Problem Solving Item Responses Using a Multidimensional IRT Model. University of Melburne. Mathe-matics Education Research Journal









Sabtu, 04 Februari 2017

PERTEMUAN 2

PRINSIP DASAR MULTIMEDIA PEMBELAJARAN


 A. PENGERTIAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
               
              Istilah multimedia berkenaan dengan penggunaan berbagai jenis/bentuk media secara berurutan maupun simultan dalam menyajikan suatu informasi. Merril et.al (1996) memberikan pengertian multimedia merupakan kombinasi dari berbagai jenis media seperti teks, grafik, suara, animasi dan video dalam aplikasi komputer. Pengertian yang sama diungkapkan oleh Steven Hackbarth (1996) yaitu:

Multimedia is suggested as meaning the use of multiple media formats for the presentation of information, including texts, still or animated graphics, movie segments, video, and audio information. Computer-based interactive multimedia includes hypermedia and hypertext. Hypermedia is a computer-based system that allows interactive linking of multimedia format information including text, still or animated graphic, movie segments, video, and audio. Hypertext is a non-linier organized and accessed screens of text and static diagrams, pictures, and tables.

              Vaughan (2006) mengatakan bahwa multimedia pembelajaran merupakan kombinasi teks, seni, suara, animasi, dan video yang disampaikan kepada seorang (peserta didik) dengan komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital yang lain. Melalui gabungan media-media ini pengalaman belajar menjadi sesuatu yang interaktif yang mencerminkan suatu pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.


 B. PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
                   
               Ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan oleh pengajar dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
(1) Tidak ada satu media yang paling unggul untuk semua tujuan. Satu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk yang lain.
(2) Media adalah bagian intregal dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja., tetapi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang lain dalam perancangan instruksional. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media pembelajaran itu tidak akan terjadi.
(3) Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar siswa. Kemudahan belajar siswa haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
(4) Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
(5) Pemilihan media hendaknya obyektif (didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.
(6) Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan siswa. Penggunaan multimedia tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus,tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula.
(7) Kebaikan dan keburukan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keabstrakannya. Media yang kongkrit wujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrak dapat pula memberikan pengertian yang tepat.

C. PRINSIP PEMILIHAN MEDIA
               
                 Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan
seorang guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk
digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan
adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam
kegiatan belajar mengajar.
               
                  Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa prinsip-prinsip pemilihan media adalah
(1) harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa, (2) pemilihan
media hams secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru
atau sekedar sebagai selingan atau hiburan. pemilihan media itu benar-benar
didasarkan atas pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa, (3) tidak
ada satu pun media dipakai untuk mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki
kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar
mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan media untuk
mencapai tujuan pengajaran tertentu, (4) pemilihan media hendaknya disesuaikan
dengan metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan
bagian yang integral dalam proses belajar mengajar, (5) untuk dapat memilih media
dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media, dan (6)
pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.

                  Sedangkan Ibrahim (1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat
digunakan untuk memilih media pembelajaran, antara lain (1) sebelum memilih media
pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling
baik untuk mencapai semua tujuan. masing-masing media mempunyai kelebihan dan
kelemahan. penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara
serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan
pembelajaran, (2) pemilihan media hendaknya dilakukan secara objektif, artinya
benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan
karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan, (3) pernilihan media
hendaknya memperhatikan syarat-syarat (a) sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai, (b) ketersediaan bahan media, (c) biaya pengadaan, dan (d)
kualitas atau mutu teknik.
               
               Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran
adalah (1) media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran,
metode mengajar yang digunakan serta karakteristik siswa yang belajar (tingkat
pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar), (2) untuk dapat
memilih media dengan tepat, guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media
pembelajaran, (3) pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada siswa yang
belajar, artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa,
(4) pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan
bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar.

                Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diturunkan sejumlah faktor yang
mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran yang dapat dipakai
sebagai dasar dalam kegiatan pemilihan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah (1)
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (2) karakteristik siswa atau sasaran, (3) jenis
rangsangan belajar yang diinginkan, (4) keadaan latar atau lingkungan, (5)kondisi
setempat, dan (6) luasnya jangkauan yang ingin dilayani (Sadiman 2002:82).

                Pemilihan media pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran berbasis
kompetensi membaca puisi juga harus berpedornan pada prinsip-prinsip pemilihan
media yang dilatari oleh sejumlah faktor di atas. Pemilihan media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan tujuan instruksional
membaca puisi yang akan dicapai, isi materi pelajaran pembelajaran membaca puisi,
metode mengajar yang akan digunakan, dan karakteristik siswa. Sehubungan
dengan karakteristik siswa, guru harus memiliki pengetahuan tentang kemampuan
intelektual siswa usia SMA, agar guru dapat memilih media yang benar-benar sesuai
dengan siswa yang belajar. Ketepatan dalam pemilihan media akan dapat
meningkatkan mutu proses belajar mengajar membaca puisi sehingga guru dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa.

                Sedangkan menurut Sanjaya (2008) ada 5 prinsip yang harus diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, antara lain:
1. Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2. Pemilihan media harus berdasarkan konsep yang jelas.
3. Pemilihan media harus sesuai dengan karakteristik siswa.
4. Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa serta gaya dan kemampuan guru.
5. Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas, dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.

D. PRINSIP PEMANFAATAN MEDIA

                  Setelah kita menentukan pilihan media yang akan kita gunakan, maka pada akhimya kita dituntut untuk dapat memanfaatkannya dalam proses pembelajaran. Media yang baik, belum tentu menjamin keberhasilan belajar pebelajar jika kita tidak dapat menggunakannya dengan baik. Untuk itu, media yang telah kita pilih dengan tepat harus dapat kita manfaatkan dengan sebaik mungkin sesuai prinsip--prinsip pemanfaatan media.

                  Ada beberapa prinsip umum yang perlu kita perhatikan dalam pemanfaatan media pembelajaran, yaitu:
1. Setiap jenis media, memiliki kelebihan dan kelemahan
Tidak ada satu jenis media yang cocok untuk semua proses pembelajaran dan dapat mencapai semua tujuan belajar. lbaratnya, tak ada satu jenis obat yang manjur untuk semua jenis penyakit.
2. Penggunaan beberapa macam media secara bervariasi memang diperlukan
Namun harap diingat, bahwa penggunaan media yang terlalu banyak sekaligus dalam suatu kegiatan pembelajaran, justru akan membingungkan pebelajar dan tidak akan memperjelas pelajaran.Oleh karena itu gunakan media seperlunya, jangan berlebihan.
3. Penggunaan media harus dapat memperlakukan pebelajar secara aktif. Lebih baik menggunakan media yang sederhana yang dapat mengaktifkan seluruh pebelajar daripada media canggih namun justru membuat pebelajar kita terheran-heran pasif.

                  Sebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan rencana pembelajaran. Tentukan bagian materi mana saja yang akan kita sajikan dengan bantuan media. Rencanakan bagaimana strategi dan teknik penggunaannya. Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar pengisi waktu kosong saja. Jika pebelajar sadar bahwa media yang digunakan hanya untuk mengisi waktu kosong, maka kesan ini akan selalu muncul setiap kali pembelajar menggunakan media. Penggunaaan media yang sembarangan, asal-asalan, atau "daripada tidak dipakai", akan membawa akibat negatif yang lebih buruk. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaaan media. Kurangnya persiapan bukan saja membuat proses pembelajaran tidak efektif dan efisien, tetapi justru mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika kita akan menggunakan media elektronik (Sudjana, Nana. 1989).


DAFTAR PUSTAKA

https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/09/buku-ajar_media-pembelajaran.pdf
Merryll, P. F. (et al.). (1995). Computers in educations (3rd ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Sadiman, A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Cv. Rajawali.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana, Jakarta, Indonesia.
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Pebelajar Aktif dalam Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Sabtu, 28 Januari 2017

PERTEMUAN 1

LANDASAN TEORITS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN


A. PENGERTIAN MEDIA 

              Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius yang secara harfiah berarti “tengah”,      “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara  atau pengantar  pesan    dari pengirim kepada penerima pesan. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photographis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual atau verbal. AECT memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2015 : 3).

              Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Metode adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Menutut Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Asosiasi Pendidikan Nasional memiliki pengertian yang berbeda tentang media dimana media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya dan media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan dibaca. Jadi dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, dkk, 2014 : 6-7).

B. PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN
   
              Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.

 Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :
  1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
  2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
  4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

C. LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN 

             Menurut Bruner (1966 : 10-11) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial / gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan ,misalnya arti kata 'simpul' dipahami dengan langsung membuat 'simpul'. Pada tingkatan kedua yang diberi label ionic, kata 'simpul' dipelajari dari gambar, lukisan, foto, atau film. Selanjutnya pada tingkatan simbol, siswa membaca kata 'simpul' dan mencoba mencocokkannya dengan 'simpul' pada  image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat 'simpul'. Ketiga tingkat pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh "pengalaman' (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.
   
           Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti itu digambarkan oleh Dale (1969) sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan siswa dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan ke dalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).

           Levie & Levie (1975) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Di samping itu, stimulus verbal memberi hasil belajar yang lebih apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial). 

            Tingkat keabstrakan pesan akan semakin tinggi ketika pesan itu dituangkan ke dalam lambang-lambang seperti itu, indera yang dilibatkan untuk menafsirkannya semakin terbatas, yakni indera penglihatan atau indera pendengaran. Meskipun tingkat partisipasi fisik berkurang, keterlibatan imajinatif semakin bertambah dan berkembang. Sesungguhnya, pengalaman konkret dan abstrak dialami silih berganti, hasil belajar dari pengalaman langsung mengubah dan memperluas jangkauan abstraksi seseorang, dan sebaliknya, kemampuan interpretasi lambang kata membantu seseorang untuk memahami pengalaman yang didalamnya ia terlibat langsung (Arsyad, 2015 : 10-15).


DAFTAR PUSTAKA

Arsyad ,Azhar. 2015. Media Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Pers.
Sadiman, dkk. 2014. Media Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran/