Sabtu, 25 Februari 2017

PERTEMUAN 4

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


                 Perkembangan teknologi baru di bidang komunikasi dan informasi  membawa pengaruh terhadap pergeseran paradigma perpustakaan yang semula berbasis tekstual menjadi elektronik. Salah satu dampak yang paling signifikan dari perubahan paradigma tersebut adalah munculnya layanan-layanan baru yang menawarkan pencarian dan penemuan informasi secara elektronik.
Pendit berpendapat teknologi baru di bidang komputer dan informasi membawa pemikiran baru yang diberi tajuk perpustakaan digital (digital library). Konsep ini membawa pada pemikiran konsep yang tidak saja merujuk pada pergeseran teknologi melainkan pada pergeseran tata pikir, pergeseran
paradigma, perubahan tingkah laku, sampai rekonstruksi persepsi dari nilai dan sistem nilai yang ada dalam konteks lingkungan digital (Pendit, 2007:1).
                 Perpustakaan merupakan jantung dari sebuah lembaga pendidikan. Bagaimana sebuah lembaga pendidikan dapat mencerdaskan anak didiknya jika tidak memiliki fasilitas yang bisakhususnya di perguruan tinggi akan dapat dikembangkan dengan adanya perpustak menjadi referensi pembelajaran yang mumpuni bagi anak didiknya. Mutu pendidikan, aan yang memadai sesuai dengan perkembangan zaman. Disinilah eksistensi sebuah konsep digital library (perpustakaan digital) diperlukan.
                 Dalam dinamika Perguruan Tinggi di Indonesia, perpustakaan memerankan fungsi multiple role, dimana perpustakaan tak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mencari referensi namun juga memiliki fungsi tempat belajar, pelayanan akademik, dan sebagainya. Perpustakaan di Perguruan
Tinggi yang saat ini mimiliki fungsi semakin kompleks pun dituntut untuk terus berkembang dengan berbagai kemasan dan fasilitas yang ditawarkan kepada pengguna. Karena jika perpustakaan tidak berkembang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa, perpustakaan dapat ditinggalkan dengan berbagai alasan.
                 Potensi-potensi telematika untuk pendidikan saat ini sedang diarahkan ke suatu konsep yang disebut pembelajaran elektronik (e-learning) dalam sebuah lingkungan virtual (virtual learning environment). Menurut Rosenberg (dalam Pendit, 2007: 44) e-learning selalau dihubungkan dengan internet, sebagai teknologi yang memungkinkan penyampaian pengetahuan secara meluas, dan didasarkan pada tiga ciri utama teknologi ini. Pertama, e-learning memanfaatkan teknologi jaringan yang memungkinkan pemakaian informasi secara bersama dari berbagai tempat terpisah sambil sekaligus melakukan pembaruan (updating), penyimpanan, penemuan, dan penyebaran pengetahuan
secara terus menerus. Kedua, e-learning memungkinkan penggunaan berbagai aplikasi teknologi komunikasi karena saat ini internet sudah memiliki protokol dan standar yang memungkinkan penggunaan berbagai media digital secara bersama-sama. Ketiga, berkat potensi teknologi sebagaimana disebut pada butir pertama dan kedua di atas, maka e-learning dapat menjadi paradigma baru yang berdasarkan pandangan luas tentang peran pendidikan, sehingga pendidikan tidak selalu menjadi pelatihan atau pemindahan pengetahuan, tetapi pembelajaran yang holistik dan terus menerus.
Sistem Belajar Dengan E-Learning
                  Dewasa ini dunia pendidikan sangat akrab dengan istilah e-learning.E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Adapun beberapa definisi dari e-learning diantaranya:
1. Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael,2013:27).
2. Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).
3. Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).
Sehingga karakteristik E-learning (Nursalam, 2008:135) adalah:
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer anetworking)
3. Menggunkan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
                    Walaupun istilah yang digunakan disini adalah e-learnig (electronic learning), tetapi dapat diketahui bahwa e-learning yang ada sekarang tak hanya mencakup pemaknaan kata electronic. Pada awal perkembanganya dikemas e-learning melalui media elektronik seperti video dalam bentuk CD/VCD/DVD, namun kini penggunaan e-learning dalam praktiknya lebih identik dengan
komputer dan internet. Artinya secara pemaknaan e-learning merupakan digital learning. Hanya saja penggunaan istilah e-learning lebih jamak digunakan diseluruh dunia.
                 Seperti halnya dengan teknologi dan informasi yang mengutamakan kemudahan akses, penggunaan dan pelayanan, maka e-learning pun menerapkan perinsip yang sama dengan hal tersebut. Sehingga beberapa manfaat dari (Pranoto, dkk , 2009:309) adalah:
1. Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.
2. Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
3. Meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
4. Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.

Pengertian E-Learning
                Kegiatan pembelajaran secara elektronik atau singkat disebut “e-learning” telah dikenal pada tahun 1970-an, namun di Indonesia memulainya pada tahun 1995-an. Menurut Soekartawi (2007: 23) e-learning berasal dari huruf “e” baruyang berarti elektronik dan ”Learning” yang berarti pembelajaran, jadi e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika. Lebih lanjut menurut Nichols (2003) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 65) mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: “internet 17 based learning” (belajar berbasis internet), “virtual learning” (belajar melalui lingkungan maya), dan “web-based learning” (belajar berbasis web). 
                Beberapa ahli mengemukakan bahwa istilah “e-learning” mengacu pada penggunaan teknologi internet untuk menyajikan sejumlah pilihan solusi yang sangat luas yang mengarahkan pada peningkatan pengetahuan. Sehingga menurut beberapa ahli yaitu Mary Daniels Brown dan Dave Feasey (2001) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 66) mengemukakan bahwa e-learning adalah bentuk kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan, seperti: internet, Local Area Network (LAN), atau Wider Area Network (WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi, serta didukung oleh berbagai layanan belajar lainnya Menurut Soekartawi (2007: 27-28) pada dasarnya cara penyampaian dari e-learning, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah (One way communication), komunikasi dua arah (Two way communication). Komunikasi antara guru dan siswa sebaiknya dilakukan secara dua arah, karena didalam pembelajaran membutuhkan interaksi yang lebih dekat agar tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Lebih lanjut Soekartawi menjelaskan bahwa dalam e-learning sistem dua arah ini juga dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu :
(1) Dilaksanakan secara langsung (syncronous)
Artinya pada saat guru atau instruktur memberikan pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan.
(2) Dilaksanakan secara tidak langsung (a-syncronous)
Misalnya pesan dari instruktur direkam terlebih dahulu sebelum digunakan.
Fungsi Pembelajaran Elektronik (E-learning)
               Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 21-24) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction) antara lain:
(1) Suplemen (Tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila siswa mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada
kewajiban/keharusan bagi siswa untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, siswa yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
(2) Komplemen (Pelengkap)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi pengayaan atau remedial bagi siswa di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
(3) Substitusi (Pengganti)
Beberapa sekolah di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif
model kegiatan pembelajaran/pembelajaran kepada para siswanya.Tujannya agar para siswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan pembelajarannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari siswa. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih siswa, yaitu: sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan sepenuhnya melalui internet.
Manfaat E-Learning
              E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus
dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa. Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 24-26) manfaat e-learning dapat dilihat dari dua sudut, yaitu: 
1 Sudut Siswa
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitasbelajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
2 Sudut Guru
Beberapa manfaat yang diperoleh guru, instruktur antara lain adalah bahwa guru, instruktur dapat :
(1) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi.
(2) Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.
(3) Mengontrol kegiatan belajar siswa. Bahkan guru atau instruktur juga dapat mengetahui kapan siswanya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang.
(4) Mengecek apakah siswa telah mengerjakan soal-soal.
(5) Latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan memeriksa jawaban siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa. Seiring perkembangan teknologi internet, metode e-learning mulai dikembangkan. MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat mengubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan MOODLE, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. MOODLE itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (Prakoso, 2005: 13).


DAFTAR PUSTAKA

Chandrawati, Sri Rahayu. 2010. Pemanfaatan E-learning dalam Pembelajaran.
No 2 Vol. 8. http://jurnal.untan.ac.id/
Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Suatu Panduan Praktis.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nursalam dan Ferry Efendi. 2008. Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Pendit, Putu Laxman, dkk. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan
Perguruan Tinggi Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Pendit, Putu Laxman. 2008. Perpustakaan Digital: Dari A samapi Z. Jakarta:
Cita Karyakarsa Mandiri.
------. 2009. Perpustakaan Digital: Kesinambungan dan Dinamika. Jakarta:
Cita Karyakarsa Mandiri.
Siahaan, Sudirman. 2005. Seputar Pembelajaran Elektronik (e-Learning). Jurnal
Teknodik, 17(4): 63-80 di http://www.issuu.com/downloadbse/
docs/jurnal_nodik_17_full didownload pada tanggal 17 April 2010.
Soekartawi. 2007. Merancang dan Menyelenggarakan E-Learning. Yogyakarta:
Ardana Media.
Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Baru
Algesindo
Sugandi, Achmad dan Haryanto. 2007. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT
MKK UNNES.

15 komentar:

  1. Apakah syarat-syarat e-learning yang baik?

    BalasHapus
  2. Tambahan, Fungsi e-learning dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai suplemen (tambahan), komplemen (pelengkap), dan substitusi (pengganti).

    1) Suplemen (tambahan)
    Peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Mengakses materi pembelajaran elektronik hanya sebagai himbauan pengajar kepada peserta didik.

    2) Komplemen (pelengkap)
    Materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas, sebagai pengayaan bagi peserta didik berkemampuan rata-rata, atau remedial bagi peserta didik yang lamban kemampuan belajarnya.

    3) Substitusi (pengganti)
    E-learning sebagai pengganti digunakan di beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju. Tujuannya untuk membantu mempermudah mahasiswa mengelola kegiatan pembelajaran/perkuliahan sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya dengan kegiatan perkuliahan. Mahasiswa dapat memilih model kegiatan pembelajaran yaitu tatap muka saja, sebagian tatap muka dan sebagaian melalui internet, atau sepenuhnya melalui internet.

    BalasHapus
  3. dengan banyak kekurangan dari e-learning ini, apakah menurut anda e-learning masih efektif dan efisien untuk digunakan??

    BalasHapus
  4. Apakah kendala yang sering muncul pada pengembangan e-learning dalam pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya akan mencoba menjawab pertanyaan heni kendala yang sering muncul dalam pemblajaran e-learning biasanya adalah kendala teknis seperti susah singal atau pun lainnya. dan juga dalam pmbelajaran e-learning sering sekali siswa merasa bosan

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. bagaimana ciri-ciri elearning yang baik shg dpt menarik minat para siswa u/ belajar?

    BalasHapus
  7. Apa saja kekurangan dari eleraning dalam pandang siswanya?

    BalasHapus
  8. e-learning yang ada saat ini apakah sudah efektif menurut anda?

    BalasHapus
  9. Apakah faktor yang menyebabkan adanya kekurangan dalam e-learning?

    BalasHapus
  10. jelaskan dan beri contoh fungsi komplemen!

    BalasHapus
  11. Apakah seluruh materi kimia dapat dijelaskan dengan baik melalui e-learning?

    BalasHapus
  12. Prinsip pembelajaran berbasis web ini, yaitu :
    1. Web Course
    proses aktivitas pembelajaran yang terjadi tanpa tatap muka secara langsung antara pengajar dan peserta didik.web course ini ada 2 macam :
    a. synchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
    b.Asynchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang tentukan dan ditempat yang berbeda. Misalnya pengajar bertanya dengan peserta didik, lalu si peserta didik tidak harus menjawab pada saat itu juga akan tetapi bisa di lain waktu.
    2. Web Centric Course
    Aktivitas pembelajaran yang 50% nya mencakup synchronize dan asynchronize dan 50% nya lagi melakukan aktivitas pembelajaran dengan berinteraksi secara langsung.
    3. Web Enhanced Course
    Kegiatan tatap muka biasa secara langsung dan dihadiri juga sumber lain misalnya dengan menampilkan video ataupun dengan mengakses sumber lain dari internet pada saat proses pembelajaran.

    BalasHapus
  13. sedikit menambahkan,
    Media pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini adalah(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasiakademik siswa, (b) menambah kenyamanan, (c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan (e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya (Kim, 2007:5; Kose, 2010:2796).Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif (Alberst et al, 2007:55-56; Kose, 2010:2796).

    BalasHapus
  14. Elemen E-learning
    Definisi e-learning memiliki beberapa elemen tentang apa, bagaimana, dan mengapadari e-learning:
    1) Apa.
    E-learning memasukkan baik konten, yaitu informasi, dan metode instruksional, yang mana teknik, untuk membantu orang mempelajari konten belajar.
    2) Bagaimana.
    E-learning didistribusikan melalui komputer dalam bentuk kalimat dan gambar. Pendistribusiannya dapat dalam bentuk gambaryang didesain untuk belajar secara individu dan dalam media videoyang didesain dengan bimbingan dari instruktur secara langsung.
    3) Mengapa.
    E-learning ditujukan untuk membantu pelajar mencapai tujuan belajarnya atau melakukan pekerjaannya.

    BalasHapus