Sabtu, 11 Februari 2017

PERTEMUAN 3

TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA


                  Tantangan perkembangan IPTEK perlu diikuti oleh peningkatan kualitas pendidikan. Seperti yang diungkapkan oleh W. Gulo (2004: 13) bahwa “Pendidikan berusaha untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam taraf tertentu” oleh karena itu guru mempunyai tugas yang terkait satu sama yang lain yaitu memberikan pengajaran yang mengarah pada meningkatkan kualitas pembelajaran.

                    Wilson (2011: 39) berpendapat “learning depends on teachers’ decisions when using technology tools. A type of knowledge several authors have characterized as necessary for teacher to understand how to use technology effectively to teach specific subject matter” (Pembelajaran tergantung pada keputusan guru saat menggunakan teknologi. Suatu pengetahuan penting bagi guru untuk memahami bagaimana menggunakan teknologi secara efektif untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu). Untuk menga-tasi masalah tersebut peneliti dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran harus kreatif dalam memilih model atau desain pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan pembelajaran berbantuan multimedia dengan Microsoft powerpoint. “Pembelajaran multimedia merupakan pembelajaran menggunakan berbagai jenis media yang berbeda dalam menyampaikan pesan atau materi pembelajaran agar pesan atau materi pembelajaran diterima secara optimal oleh siswa yang memiliki modalitas yang berbeda”(Musfiqon, 2012: 186).

                    Proses pembelajaran yang efektif terletak pada optimalisasi beban kognitif dalam kapasitas memori kerja siswa yang terbatas. Dalam mendesain pembelajaran perlu mempertimbangkan faktor kognitif. Teori yang membicarakan beban kognitif disebut teori beban kognitif. Sweller mengungkapkan, “Cognitive Load Theory (CLT) began as instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture” (Plass, Jan L.,Roxana Moreno, Robald Bruken, 2010: 29). Sehingga teori beban kognitif merupakan suatu teori yang diperkenalkan sebagai pengajaran yang berdasar pada pengetahuan dari arsitektur kognitif manusia yang kita miliki. Menurut Kuan (2010:6), teori beban kognitif berkaitan dengan dua bidang yaitu struktur memori manusia (arsitektur kognitif) dan bagaimana informasi diproses (beban kognitif).

                      Dalam struktur kognitif manusia terdiri dari tiga sistem memori: memori sensori, memori kerja (working memory atau biasanya dikenal memori jangka pendek/short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory). Memori kerja bertugas untuk mengorganisasikan informasi, memberikan makna, dan membentuk pengetahuan untuk disimpan di memori jangka panjang. Memori ini hanya dapat menyimpan informasi dalam jangka waktu yang pendek. Dalam proses pembelajaran, memori kerja digunakan untuk pengolahan informasi, memecahkan masalah, menganalisis kebutuhan, berfikir, operasi-operasi mental lainnya. Memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Karena itu, materi yang diberikan kepada siswa harus bertahap tidak boleh semuanya langsung diberikan agar tidak menjadi overload.

                     Prinsip utama teori beban kognnitif adalah kualitas dari pembelajaran akan meningkat jika perhatian dikonsentrasikan pada peran dan keterbatasan memori kerja. R.C. Clark et al mengungkapkan bahwa terdapat tiga beban kognitif yang mempengaruhi kerja memori tersebut yaitu 1) beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load), 2) beban kognitif germany (germany cognitive load) dan 3) beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) (Kuan, 2010: 6). Beban kognitif intrinsic bergantung pada tingkat kesulitan dari materinya seberapa banyak unsur yang ada dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Beban kognitif germany (germany cognitive load) adalah beban yang relevan atau menguntungkan yang dikenakan oleh metode pengajaran yang mengarah pada hasil belajar yang lebih baik (Kuan, 2010:7). Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) bergantung pada cara pesan-pesan ins-truksional tersebut dirancang, yakni pada materi tersebut ditata dan disajikan (Mayer, 2009:74).

                     Pembelajaran yang efektif dapat dicapai dengan mengelola beban kognitif intrsik, mengurangi beban kognitif asing, dan meningkatkan beban kognitif erat. Semakin banyak pengetahuan yang dapat digunakan secara otomatis dalam proses pembelajaran maka semakin minimum beban kognitif di memori kerja. Penyampaian materi yang sangat sulit dengan cara yang mudah dan menarik sehingga dapat diterima dan dipahami oleh siswa. Hal ini dapat membuat beban kognitif dalam suatu pembelajaran berkurang dan menurun dengan mengandalkan cara pengajaran yang kreatif dan tepat sasaran.

                    Berdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Bebantuan Multimedia Berdasarkan Teori Beban Kognitif yang dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa''

                     Untuk menghindari pemahaman yang berbeda terhadap istilah sehingga peneliti memberikan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah media yang digunakan dalam pembelajaran yaitu dengan microsoft powerpoint
2. Beban kognitif merupakan suatu beban mental (mental load) yang terkait dengan perbedaan tugas yang diminta dengan kemampuaan seseorang untuk menguasai tugas tersebut.
3. Teori beban kognitif (Cognitive load Theory) merupakan suatu teori yang menjelaskan fenomena yang dihasilkan oleh pembelajaran dengan memper-timbangkan kemampuan dan batasan rancangan kognitif manusia, teori ini menghubungkan desain karakteristik beban pembelajaran dengan prinsip pengolahan informasi.
4. Pembelajaran berbantuan multi mediaberdasarkan teori beban kognitif merupakan pembelajaran yang dapat mengelola beban kognitif intrinsic, merendahkan beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germany dengan langkah-langkah (a) menginformasikan
tujuan pembelajaran melalui powerpoint, (b) menyampaikan materi dengan powerpoint, (c) membentuk kelompok (4-5 anak), (d) memberikan tugas (KLS) yang dikerjakan secara
berkelompok, (e) memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan (f) membuat rangkuman tentang materi yang telah dipelajari.




DAFTAR PUSTAKA
 
Bell, F.H.. 1978. Teching Learning Mathematics: In Secondary Shooles. Iowa: Wn. C. Brown Company Publishers.
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Dedikbud P2LPTK.
Gulo, W. 2004. Strategi Belajar mengajar. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Grasindo.
Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Heni, 2010. Having Fun With Microsof PowerPoint. Yogyakarta: Skripta Media Creative.
Musfiqon, HM. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembe-lajaran. Cetakan Pertama. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Plass, Jan L, Roxana Moreno, Roland Brunken. 2010. Cognitive Load Theory. Cambridge:Cambridge University Press.
Kuan, Nigel Choon Hao. 2010. Integrating link maps into Multimedia: an Investigation. University Of Sydney.
Lauren B. Resnick, 1981. The Psychology of Mathematics for Instruction, Lawrence Erlbaum Associates.
Margaret Wu,2006, vol. 18, No.2, 93-113. Modelling Mathematics Problem Solving Item Responses Using a Multidimensional IRT Model. University of Melburne. Mathe-matics Education Research Journal









14 komentar:

  1. sedikit menambahkan
    Menurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
    1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
    2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
    3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran

    BalasHapus
  2. Pembelajaran yang efektif dapat dicapai dengan mengelola beban kognitif intrsik, mengurangi beban kognitif asing, dan meningkatkan beban kognitif erat.bagaimana cara penerapannya?

    BalasHapus
  3. bagaimana cara memaksimalkan kualitas proses pembelajaran? apakah ada peran multimedia didalamnya?

    BalasHapus
  4. Dalam mendesain pembelajaran perlu mempertimbangkan faktor kognitif.seperti apa saja faktor kognitif tersebut?

    BalasHapus
  5. jelaskan kaitan teori beban kognitif dengan mutimedia!

    BalasHapus
  6. Apa itu ingatan jangka penjang ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
      Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu :
      · memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita,
      · memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum,
      · memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.

      Hapus
  7. syarat media yang baik itu apa saja sehingga membuat informasi dapat tersampaikan dengan baik dan masuk kememori jangka panjang?

    BalasHapus
  8. Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
    1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
    2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
    3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
    4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
    Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
    1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
    2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
    3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
    4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

    BalasHapus
  9. sedikit menambahkan,Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi)

    Gagne membuat rumusan yang berisi urutan untuk menimbulkan peristiwa pembelajaran, yaitu :
    a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
    b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
    c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
    d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
    e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
    f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
    g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
    h. Mengevaluasi hasil belajar, dan
    i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
    Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu :
    Benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
    Gagne merumuskan “ The domains of Learning “, yaitu :
    Kemampuan belajar manusia yang terbagi kepada lima kategori :
    a. Motor/skill : ketramppilan motorik.
    b. Informasi verbal : dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar.
    c. Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan dunia luar yang berkaitan dengan symbol-simbol.
    d. Strategi kognitif : organisasi keterampilan yang internal.
    e. Sikap.

    Gagne membuat rumusan tahapan dalam tujuan dan tingkatan belajar :
    Tahapan tujuan belajar diawali dari yang mudah (rendah), sedang, ke sulit (tinggi), dan tahapan ini berbanding lurus dengan tahapan proses belajar, yaitu dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Adapun tingkatan belajar ada empat : belajar fakta, belajar konsep, belajar prinsip, dan pemecahan masalah (Harjanto, 2000 : 159).

    BalasHapus
  10. Bagaimana memori jangka pendek dapat masuk ke memori jangka panjang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
      Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu :
      · memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita,
      · memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum,
      · memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu. Jadi apabila materi yang telah disampaikan oleh guru apabila selalu diulangi itu akan dapat masuk kedalam memori jangka panjang

      Hapus
  11. Berdasarkan asumsi yang telah digambarkan diatas. Agar pembelajaran penuh makna
    terjadi dalam lingkungan multimedia, maka menurut Mayer (2009:80) orang yang belajar
    harus melibatkan diri kedalam lima proses kognitif yaitu:
    (1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja verbal,
    (2) memilih gambar-gambar yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja visual,
    (3) me-nata kata-kata yang terpilih kedalam model mental verbal,
    (4) menata gambar-gambar yang terpilih kedalam model mental visual,
    (5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

    BalasHapus